A. Memahami Makna Ekonomi dalam Islam

  1. Pengertian Ekonomi dalam Islam

Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani ( greek ), yaitu Oikos dan Nomos. Oikos berarti rumah tangga, sedangkan nomos berarti aturan, kaidah, atau pengelolaan. Dengan demikian, secara sederhana ekonomi dapat diartikan sebagai kaidah-kaidah, aturan-aturan, atau cara pengelolaan suatu rumah tangga.

Pengertian ekonomi menurut islam tentu tidak hanya diartikan sebagai kaidah dan aturan dalam mengatur kubutuhan rumah tangga, namun juga disertai dengan landasan dan asas keislaman yang bersumber atas Al-Qur’an dan hadis. Jadi dapat disimpulkan , ekonomi menurut islam adalah kaidah dan aturan yang didasarkan kepada Al-Qur’an dan hadis dalam rangka mengatur pemenuhan kebutuhan rumah tangga sehari-hari atau disebut dengan ekonomi syariah.

2. Dasar Hukum Ekonomi Islam

Dasar hukum ekonomi islam adalah Al-Qur’an dan hadis serta nilai-nilai yang digali dari keduanya,baik dalam ijma’ maupun qiyas.

Inti dari dasar hukum ekonomi islam yang dimaksudkan agar dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga senantiasa memperhatikan status halal dan haramnya suatu materi yang kita gunakan. Kita juga harus menghindarkan diri untuk tidak menggunakan dan memakan barang-barang haram yang bukan hak kita.

3. Prinsip Ekonomi Islam

Ada beberapa prinsip yang harus di penuhi, antara lain :

a. barang yang digunakan dalam transaksi ekonomi ( produksi, konsumsi, distribusi, dan investasi ) merupakan barang halal, baik halal secara zatiyyah ( secara materiil barang tersebut halal ) maupun ‘aridiyyah ( barang secara materiil halal dan bukan najis wujudnya, namun cara perolehannya tidak dihalalkan contohnya motor hasil curian )

b. dalam kegiatan transaksi ekonomi tidak mengandung unsur-unsur riba.

Secara bahasa, riba berarti pembesaran atau penambahan. Riba dibagi menjadi 3 macam, yaitu riba nasi’ah, fadl, dan yad.

c. Dalam kegiatan transaksi ekonomi tidak mengandung unsur garar atau penipuan

d. Kegiatan transaksi ekonomi terjadi karena adanya kemauan dari belah pihak yang bertransaksi.

B. Praktik Ekonomi Islam

Bentuk praktik dari kegiatan ekonomi islam antara lain sebagai berikut :

  1. Bai’ ( jual beli )

Bai’ adalah menukar suatu barang dngan barang yang lain dengan cara tertentu ( akad ). Allah Swt. berfirman di dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 275

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Artinya :
Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. ( Q.S. Al-Baqarah/2 : 275 )

Adapun rukun dan syarat jual beli adalah sebagai berikut :

a. penjual dan pembeli

syarat bagi penjual dan pembeli adalah

  • keduanya telah mencapai usia balig
  • keduanya berakal sehat ketika melakukan transaksi jual beli
  • keduanya berkehendak melakukan transaksi jual beli ( tanpa adanya paksaan ).

b. uang dan benda

syarat uang dan benda yang dibeli sebagai berikut.

  • barang dan benda yang diperjualbelikan sesuatu yang bukan najis menurut agama
  • barang dan benda di perjualbelikan memiliki nilai manfaat
  • barang dan benda yang diperjualbelikan dapat diserahkan
  • barang dan benda yang diperjualbelikan adalah milik orang yang menjual
  • barang yang diperjualbelikan dapat diketahui oleh penjual dan pembeli, baik wujudnya,sifatnya, bentuknya, maupun ukurannya.

c. Lafal Ijab dan Kabul

ijab adalah perkataan penjual sedangkan kabul adalah ucapan pembeli.

2. Salam ( Pesanan )

Salam adalah menjual benda atau barang hanya dengan menyebutkan sifat barangnya tanpa memperlihatkan zatnya. Allah Swt. berfirman didalam Q.S. Al- Baqarah ayat 282 sebagai berikut.

…. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ

artinya

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…. ( Q.S. al-Baqarah/2 : 282 )

adapun rukun dan syarat transaksi salam sebagai berikut :

  • ada penjual dan pembeli
  • ada uang dan barang
  • ada sigat atau lafal transaksi

3. syirkah ( perseroan )

Syirkah adalah kerjasama anatara duaorang atau lebih dalam suatu usaha dengan modal,sistem kerja,dan pembagian hasil yang telah ditentukan dan disepakati oleh semua anggota syirkah.

Syirkah dibagi menjadi bebrapa macam, yaitu syirkah ‘ainan dan syirkah amal.

a. syirkah ‘ainan ( serikat harta )

syirkah ‘ainan adalah kerja sama natara dua orang atau lebih dengan cara memberikan sejumlah hartanya sebagai modal yang akan dikelola dalam sebuah usaha,demi mendapatkan keuntungan dari kerja samanya. adapun rukun dan syarat dari syirkah ‘ainan adalah senagai berikut.

  • ada sigatnya ( lafal akad )
  • ada orang yang berserikat atau bekerja sama
  • ada harta yang diberikat sebagai modal usahanya

berikut syarat dari harta yang diberikan modal usaha

a. modal hendaklah berupa uang ( emas atau perak ) atau barang yang dapat ditimbangi atau di takar

b. dua modal dari kedua belah pihak yang bekerja sama hendaklah dicampur sebelum akad sehingga kedua barang itu tidak dapat dipisahkan lagi

c. ada pokok pekerjaannya

b. Syirkah Amal ( serikat kerja )

serikat kerja adalah dua orang tenaga ahli atau lebih bermufakat atas suatu pekerjaan untuk dikerjakan bersama-sama. Penghasilan atau upah dari serikat kerja di bagi bersama sesuai dengan perjajian sebelumnya.

4. qirad ( investasi )

qirad adalah memberikan modal dari seseorang kepada oranglain untuk digunakan dan dikelola dalam bentuk usaha.

adapun rukun qirad yaitu

  • harta ( modal )
  • pekerjaan (usaha )
  • keuntungan
  • pemilik modal dan pekerjanya hendaklah berakal, mencapai usia balig, dan bukan orang yang dipaksa.

5. musaqah ( paroan kebun )

musaqah adalah akad atau transaksi antara pemilik kebun dengan tukang kebun untuk memelihara kebunnya dengan keuntungan dibagi atas kesepakatan antara keduanya sewaktu akad.

6. ‘ariyah ( pinjam-meminjam)

‘ariyah adalah akad atau transaksi meminjamkan suatu barang atau sejumlah harta untuk digunakan dan diambil manfaatnya bagi mereka yang membutuhkan, dengan perjanjian akan mengembalikan barang atau sejumlah harta yang dipinjamkan tersebut kepada pemiliknya secara utuh pada waktu yang telah ditentukan ketika akad. hal ini dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadis berikut

الْعَارِيَةُ مُؤَدَّاةٌ وَالزَّعِيمُ غَارِمٌ
Artinya :
pinjaman itu wajib dikembalikan, dan oramg yang meminjam adalah orang yang memiliki hutang ( wajib mengembalikan barang yang dipinjamnya).
( H. R. At- tirmizi : 1186)

7. daman ( jaminan )

daman adalah akad atau transaksi menanggung ( menjamin ) hutang, menghadirkan barang atau orang ke tempat yang ditentukan. Orang yang berpiutang berhak menagih hutangnya kepada orang yang telah memberikan jaminan.

adapun rukun dan syarat dari praktik daman adalah

  • orang yang mejamin, disyaratkan sudah mencapai usia balig , berakal,tidak dicekal dalam membelanjakan hartanya dan dengan kehendak sendiri dia melakukan daman
  • orang yang memberikan utang, disyaratkan orang yang telah dikenal dan diketahui oeh penjamin
  • utang, barang, atau orang disyaraktkan diketahui dan tetap keadaannya
  • lafal transaksi, dengan syarat itu menunjukkan makna jaminan yang tidak digantungkan pada sesuatu dan tidak berarti sementara.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *